Sangkal Terima Suap, Hakim Merry Purba: Saya Bukan Pemain

Sangkal Terima Suap, Hakim Merry Purba: Saya Bukan Pemain

Jakarta – Hakim ad hoc Tipikor PN Medan, Merry Purba, mengakui tidak sempat terima uang suap berkaitan masalah yang ditanganinya. Diakuinya dijebak sampai jadi terduga masalah pendapat suap dari entrepreneur Tamin Sukardi.

“Saya cuma berdoa pada Tuhan, bukakan hati beberapa orang yang menjebak serta mengorbankan saya dengan menyampaikan uang berada di meja saya. Tolong ya pada Ayah Ketua PN Medan, saya tidak paham ada apakah disini. Saya bertanya ke Pak Sontan juga (hakim Sontan Merauke), ke Pak Wakil juga yang di sebelahku, kami saling mengadili disana. Saya bukan pemain. Saya tidak paham apakah ini semua sampai ada uang beberapa itu,” kata Merry sekalian terisak di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (5/9/2018).

Diakuinya tidak tahu masalah uang yang dimaksud diketemukan di mejanya. Menurut dia, dia tidak sempat terima uang yang diketemukan itu.

“Jika ada tuturnya kehadiran uang di meja saya, meja saya itu tetap terbuka, tetap terbuka serta belum pernah tertutup. Saya belum pernah terima apapun. Jika ingin jujur, saya minta pada penyidik KPK dengan semua kerendahan hati saya, tolong diselidiki CCTV siapapun juga yang masuk ke ruang saya,” katanya.

“Meja saya itu terbuka, belum pernah terkunci. Jika saya terima uang tanggal 25 (Agustus 2018) itu, itu Sabtu. Hari Sabtu kan pere (libur). Apakah saya sebodoh itu masuk ke kantor? Coba lihat CCTV. Apakah itu mungkin saya bawa serta? Dari tempat mana? Baru masukan ke laci, kan tidak dapat diterima akal. Itu memusingkan saya sampai kini,” sambungnya.

Merry juga menuturkan masalah kehadiran mobilnya pada 25 Agustus 2018, yang disebutnya dipertanyakan penyidik KPK. Menurut Merry, mobil itu tengah dipinjam oleh keluarganya.

Dia terasa dikorbankan dalam masalah ini. Menurut dia, dia benar-benar tidak tahu pendapat suap itu.

“Saya minta pada yang mengkaitkan saya dengan masalah ini, tolong berkata jujur. Janganlah saya dikorbankan, mentang-mentang saya ini hakim ad hoc tidak ada pembela di Mahkamah Agung. Putusan saya berlainan, mengapa kok saya dapat dikorbankan. Ada apakah ini, itu pertanyaan saya saat beberapa waktu,” kata Merry.

Baca Juga : Kata PDIP masalah Peluang Jokowi Tunjuk Ketua Timses di Rabu Pon

Masalah ini bermula dari operasi tangkap tangan KPK di Medan pada Selasa (28/8). Waktu itu ada delapan orang yang ditangkap KPK, termasuk juga empat hakim, yaitu Ketua PN Medan Marsudin Nainggolan, Wakil Ketua PN Medan Wahyu Prasetyo Wibowo, hakim PN Medan Sontan Merauke, serta hakim ad hoc Tipikor Medan Merry Purba.

Sesudah lakukan kontrol, KPK mengambil keputusan empat terduga dalam masalah ini. Mereka adalah Merry Purba serta panitera alternatif Helpandi menjadi terduga yang disangka terima suap. Sedang terduga pemberi adalah entrepreneur Tamin Sukardi serta orang kepercayaannya, Hadi Setiawan.

Tamin disangka memberikan keseluruhan uang SGD 280 ribu ini berkaitan dengan vonis perkaranya di PN Medan pada Senin (27/8). Masalah Tamin di PN Medan itu disidangkan oleh Merry Purba.