Sidang OSO Lanjut ke Kontrol, Kuasa Hukum Meyakini KPU Melanggar 

Sidang OSO Lanjut ke Kontrol, Kuasa Hukum Meyakini KPU Melanggar

Jakarta – Bawaslu akan memutuskan meneruskan laporan Oesman Sapta Odang (OSO) berkaitan pendapat pelanggatan administrasi yang dikerjakan KPU. Kuasa Hukum OSO menjelaskan perihal ini menunjukkan terdapatnya kekuatan pelanggaran yang dikerjakan KPU.

“Memberi terdapatnya satu tanda-tanda jika ada kekuatan dari tidak dilaksanakannya putusan PTUN menjadi satu pelanggaran administrasi pemilu oleh KPU,” tutur pelapor yang kuasa hukum OSO Doddy S Abdul Qadir, di kantor Bawaslu, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis(27/12/2018).

Doddy menjelaskan pihaknya sudah mempersiapkan alat bukti yang akan dikatakan dalam persidangan. Alat bukti itu yakni putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) sampai surat Bawaslu yang minta KPU menjalankan putusan PTUN.

“Kami telah sediakan alat bukti untuk menunjukkan, jika terjadi pelanggaran yang dikerjakan oleh KPU di mengambil keputusan DCT. Terutamanya pada Oesman Sapta yang telah memperoleh satu ketetapan hukum yang berkekuatan hukum masih, yang berdasar pada UU pemilu harus dikerjakan oleh KPU menjadi DCT DPD pada pemilu 2019. Putusan PTUN, lalu juga ada surat dari Bawaslu yang mengatakan jika KPU harus melakukan putusan PTUN. Itu akan kami untuk jadikan alat bukti,” tutur Doddy.

Baca Juga : Janganlah Ragukan Prinsip Keislaman Jokowi

Berdasar pada laporan, KPU ditunjuk lakukan pelanggaran administrasi berkaitan putusan Mahkamah Agung serta Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Pelanggaran administrasi ini berkaitan dengan penerbitan surat KPU dengan nomer 1492 pada tanggal 8 Desember 2018, tentang pengunduran diri menjadi pengurus parpol buat calon anggota DPD RI Pemilu 2019.

Selain itu kuasa hukum OSO Gugum Ridho Putra, mengatakan pihaknya minta Bawaslu memerintah KPU untuk menjalankan tingkatan sama dengan ketentuan serta memasukan OSO dalam DCT. Menurut Gugum SK KPU berkaitan prasyarat pengunduran diri adalah bentuk pembangkangan atas putusan PTUN.

“Utamanya permintaan kita ini minta pada Bawaslu untuk menyapa KPU suapaya menjalankan pemilu sama dengan tingkatan nah tempo hari itu, pak OSO telah lolos dalam DCS tanggal 20 September 2018,” kata Gugum.

“Surat 1492 itu bukti tercatat jika KPU membangkang putusan PTUN, ia tidak mau menjalankan putusan PTUN , walau sebenarnya putusan PTUN itu final serta mengikat, tidak dapat di banding, tidak dapat dikasasi,” sambungnya.

Bawaslu akan memutuskan meneruskan laporan pendapat pelanggaran ini ke sidang kontrol. Sidang ini akan diteruskan dengan agenda pembacaan inti laporan Besok (28/12) pada jam 14.00 WIB.