Pesan Kementerian PPPA supaya Tidak Langgar Hak Anak Waktu Kampanye

Pesan Kementerian PPPA supaya Tidak Langgar Hak Anak Waktu Kampanye

Jakarta – Mendekati pemilu 2019, sebagian orang tua menyertakan anak-anak pada kampanye politik. Walau sebenarnya, anak belumlah memahami dengan arti politik. Pada Minggu (17/3/2019) pagi, Kementerian Pemberdayaan Wanita serta Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengadakan pekerjaan Deklarasi Kampanye Aman untuk Anak.

Pekerjaan itu adalah inisiasi kementerian bersama dengan Tubuh Pengawas Penentuan Umum (Bawaslu), Komisi Penentuan Umum (KPU) serta Komisi Perlindungan Anak (KPAI). Kira-kira 400 anak sudah bergabung di kantor Bawaslu. Kehadiran anak-anak itu untuk mengatakan perlindungan anak dari penyalahgunaan dalam pekerjaan politik.

Deklarasi itu didatangi oleh sekretaris Kemen PPPA, Pribudiarta N Sitepu, Ketua KPU Arief Budiman, Ketua KPAI Susanto, anggota Bawaslu M. Afifuddin, beberapa guru serta tentu saja anak-anak. Kemen PPPA memberi pesan untuk kita beberapa orangtua, bersama bangun prinsip membuat perlindungan anak di saat-saat kampanye politik. Dia menyatakan tidak untuk menyertakan anak dibawah 18 tahun dalam kampanye.

“Kita bersama bangun prinsip lewat deklarasi untuk perlindungan anak terpenting di saat-saat kampanye politik. Anak yang berumur dibawah 18 tahun mesti memperoleh hak untuk perlindungan,” tutur Pribudiarta, diambil dari tayangan wartawan yang di terima HaiBunda.

Pesan Kementerian PPPA supaya Tidak Langgar Hak Anak Waktu Kampanye/ Photo: Kemen PPPABaca pun: Debat Masalah Jan Ethes, Pada Pro – Kontra Jokowi Ajak Cucu

Merujuk pada laporan penduduk, Pribudiarta menjelaskan bila mendekati pemillihan umum (pemilu) anak sering dilibatkan dalam kegiatan kampanye politik.

“Info dari KPAI, tahun 2014 ada 248 masalah dengan 15 type modus kampanye yang menyertakan anak. Jadi kita melawan satu keadaan yang memang cukuplah serius berkaitan dengan pelibatan anak-anak dalam pemilu,” papar Pribudiarta.

Baca Juga : Jajak Opini Bukan Kampanye

Pelibatan anak dalam kampanye tidak cuma merenggut hak anak. Akan tetapi, disadari salah satunya orangtua yang ada di deklarasi, Marini, hal tersebut satu bentuk eksploitasi pada anak. Dia tidak sepakat anak dilibatkan kampanye.

“Saya banyak lihat anak dilibatkan kampanye politik. Kasihan, itu eksploitasi anak,” jelas ibu satu anak ini.

Di lain sisi, anak bahkan juga belumlah memahami dengan arti politik. Anak-anak yang ada pun tidak memahami waktu di tanya mengenai makna kampanye pemilu serta politik. Diinginkan dengan pekerjaan ini, peserta pemilu, penduduk, orangtua dan pemangku kebutuhan yang lain tidak menyertakan anak dalam pekerjaan politik termasuk juga kampanye.